Dokter umum di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Koja, Jakarta Utara, Siti Rosidah, menyarankan cara mencegah masalah kesehatan usai libur Lebaran.

Salah satunya cukup beristirahat.

Selain itu, kita juga perlu banyak minum air putih, mengurangi makanan berlemak, rutin berolahraga, dan minum suplemen daya tahan tubuh bila perlu.

“Bagi yang punya penyakit komorbid diharapkan untuk kontrol cek laboratorium pascapuasa dan Lebaran, kontrol ke dokter jika terdapat komorbid yang belum stabil,” kata Rosidah.

Dia mengatakan masalah kesehatan yang biasanya muncul usai libur Lebaran termasuk diabetes, hipertensi, pembengkakan dan penyumbatan jantung, stroke, dan infeksi saluran napas atas seperti batuk dan pilek.

Demam, demam berdarah dengue (DBD), diare akut, dan dispepsia atau gejala nyeri, dan perasaan tidak enak pada perut bagian atas dan berulang juga termasuk masalah kesehatan yang kerap dialami usai liburan dan Lebaran.

Mengenai hepatitis akut yang beberapa waktu terakhir dicurigai dialami anak-anak di Indonesia, dia mengatakan belum menemukan kasus serupa di tempatnya praktik.

Menurutnya, rata-rata anak-anak dengan fungsi hati meningkat terkena kasus syok sindrom dengue.

Hepatitis yakni peradangan pada sel hati yang umumnya diawali gejala seperti diare, mual, muntah, sakit perut, dan dapat disertai demam ringan.

“Sekarang yang paling penting edukasi ke orang tua bila anak sakit langsung dibawa ke rumah sakit atau dokter, jangan tunggu beberapa hari karena bila datang ke rumah sakit terlambat semua sudah pada syok,” saran Rosidah.

Bagi orang-orang dengan keluhan stres usai liburan, khususnya yang mengalami kemacetan di jalan raya, dia menyarankan mencari kesibukan sesuai hob, misalnya menonton film.

Bagi Muslim, bisa coba berwudhu dan membaca Al Quran.

Terkait masalah kesehatan yang muncul usai liburan, asisten profesor di Sekolah Kedokteran Universitas New York, Roshini Rajapaksa, mengatakan ada berbagai hal yang bisa menjadi penyebab, antara lain kecenderungan meninggalkan rutinitas seperti minum lebih sedikit dan pola makan kurang sehat.

“Tidak mengherankan, semua itu dapat menyebabkan sistem kekebalan terdampak, melemahkan kemampuan tubuh untuk melawan hal-hal yang tidak diinginkan,” tuturnya, seperti dikutip dari Health.

Rajapaksa menyarankan untuk segera kembali ke rutinitas agar bisa 100 persen sehat setelah tiba di rumah.

Pastikan untuk mengonsumsi makanan seimbang, kembali berolahraga, dan cobalah tidur setidaknya delapan jam setiap malam.

Jika kembali, saran tersebut tidak cukup menghilangkan perasaan atau masalah kesehatan pascaliburan muncul, segeralah periksa ke dokter.

Dokter dapat membantu menentukan apakah pilek yang berkepanjangan mungkin memerlukan perawatan.

Berbicara batuk dan pilek yang berpotensi dialami usai liburan, angkutan massal dikatakan termasuk penyebab paling mungkin, menurut asisten penyakit infeksi di Sekolah Kedokteran Freinberg Universitas Northwestern, Michael Angarone.

“Anda berada di sekitar lebih banyak orang daripada biasanya, di ruang tertutup.

Di pesawat terbang, misalnya, udara disaring.

Tetapi, Anda duduk dengan banyak orang lain di dekat, jadi jika orang di sebelah memiliki virus dan bersin atau batuk, itu meningkatkan peluang terinfeksi,” tuturnya, seperti dikutip dari Prevention.

Di masa pandemi COVID-19 ini, seperti yang dikatakan para pakar kesehatan, masyarakat perlu menerapkan protokol kesehatan, khususnya selama berada di luar rumah, termasuk saat berlibur.

Pakai masker dengan benar dan mencuci tangan atau menggunakan pembersih tangan setelah menyentuh benda dan sebelum menyentuh wajah atau mulut menjadi saran pencegahan COVID-19 dan penyakit menular lain.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.