Berita ada atlet yang mengalami henti jantung saat bertanding ataupun setelah melakukan olahraga sedang berat semakin banyak terdengar.

Orang jatuh dan meninggal dalam waktu singkat apabila salah penanganan maupun terlambat mendapatkan pertolongan medis.

Dr.

Rerdin Julario, SpJP(K), spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan aritmia dan intervensi dari Mayapada Hospital Surabaya mengatakan henti jantung disebabkan aritmia.

“Aritimia atau gangguan irama jantung adalah gangguan pada sistem kelistrikan jantung yang menyebabkan denyut jantung menjadi lebih lambat (bradikardi), lebih cepat (takikardi), atau tidak beraturan.

Denyut jantung dikendalikan oleh sistem kelistrikan sehingga dapat berdenyut dengan irama yang teratur,” jelasnya.

Normalnya, jantung akan berdenyut 60 – 100 kali/menit.

Ketika tidak berdenyut dengan normal, jantung tidak dapat memompa darah sebagaimana mestinya dan mengakibatkan gangguan asupan darah ke organ tubuh lain.

Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan pada jantung dan organ penting lain.

Gejala aritmia dapat berbeda untuk setiap orang, tergantung jenis yang dialami.

Gejala yang biasanya dirasakan adalah jantung berdebar (palpitasi), nyeri dada, sesak napas, mudah lelah, keringat dingin, rasa akan pingsan.

Jika terlambat ditangani, aritmia dapat menyebabkan henti jantung yang dapat berujung pada kematian.

Aritmia biasanya muncul saat berolahraga, stres atau setelah terpapar kafein, nikotin, dan obat-obatan tertentu.

Aritmia juga dipengaruhi faktor risiko lain, seperti penyakit jantung koroner, hipertensi, diabetes, hipo/hipertiroid, penyakit jantung bawaan, dan faktor genetik.

Aritmia juga meningkatkan risiko orang mengalami stroke 4–5 kali lebih besar dibanding yang tidak mengalami aritmia.

Data CDC 2017 menyebutkan aritmia menyebabkan stroke iskemik sebesar 15–20 persen.

Untuk mendiagnosa aritmia, dokter akan mengevaluasi gejala dan riwayat medis pasien melalui pemeriksaan fisik dan penunjang, seperti Elektrokardiografi (EKG), Treadmill Test, Holter Monitor, dan Electrophysiology Study (EP Study).

“Electrophysiology Study adalah golden standard untuk mendiagnosa aritmia.

Dengan pemeriksaan ini dapat dipetakan aktivitas listrik jantung sehingga titik penyebab gangguan kelistrikan jantung dapat diketahui.

Berdasarkan hasil EP Study dapat ditentukan jenis aritmia dan terapi yang dibutuhkan untuk mengembalikan irama jantung normal.” jelas Rerdin.

“Penanganan aritmia disesuaikan dengan jenis aritmia yang dialami pasien,” kata Dr.

Agung Fabian Chandranegara, SpJP(K), spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan aritmia Mayapada Hospital Tangerang.

Tindakan berupa pemasangan alat pacu jantung atau pacemaker biasanya digunakan untuk kasus aritmia, di mana jantung berdenyut lebih lambat dari normal.” Tindakan lain yaitu ablasi jantung, merupakan tindakan untuk mengoreksi aritmia dengan cara memasukkan kateter melalui pembuluh darah sampai ke jantung.

Elektroda pada ujung kateter dilengkapi energi radiofrekuensi untuk mengablasi titik tertentu pada jantung yang menyebabkan aritmia sehingga jantung dapat kembali berdenyut normal.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.